Apakah id-appstore.info itu asli?

Hari ini kami mendapatkan email yang mengatasnamakan AppleID Support. Isi dari email tersebut menyatakan bahwa akun akan dinonaktifkan dan diminta untuk memperbaharui informasi penagihan agar akun dapat digunakan kembali.

Berikut email yang kami dapatkan:

[ALERT] [Laporan Pernyataan Baru]: Login pernyataan dan periksa akun 24/10/2018.

(akun anda akan dinonaktifkan)
Perbarui penagihan anda segera dapat menggunakan akun anda lagi
Ikuti petunjuk ( PDF/ DOCUMENT ) di bawah ini untuk memperbarui informasi anda

Dalam email tersebut juga terdapat attachment berupa file pdf. Berikut screenshot isi filenya:

Screen Shot 2018-10-24 at 22.26.50.png

Link pada teks VERIFIKASIKAN AKUN ANDA SEKARANG mengarah pada link: https://id-appstore.info/?16shop (JANGAN MEMBERIKAN INFORMASI PRIBADI ANDA PADA LINK TERSEBUT)

Berikut tampilan website dari link diatas:

Gambar diatas sekilas sangat mirip dengan tampilan awal website resmi Apple ID dari Apple appleid.apple.com. Hal yang harus diperhatikan yaitu pada screenshot diatas yaitu, link id-appstore.info BUKAN milik Apple, melainkan pihak ketiga yang ingin mencuri informasi kartu kredit anda. Ketika anda mengisi informasi data pribadi dan kartu kredit anda pada website scam/phising id-appstore.info dan mengirim informasi tersebut, maka pihak ketiga mendapatkan informasi pribadi anda, termasuk data kartu kredit anda.

Pesan yang ingin kami sampaikan dalam tulisan ini yaitu, ketika anda mendapatkan kiriman email atau membuka website yang meminta informasi pribadi anda, JANGAN langsung memberikan informasi pribadi apapun, yang harus dilakukan yaitu memastikan bahwa pengirim email atau website tersebut ASLI / RESMI dari perusahaan yang berkaitan. Misalnya email yang dikirimkan oleh Apple memiliki nama domain apple.com, contohnya: appleid@id.apple.com.

Sekian pesan dari kami, semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat membantu anda untuk mengenali mana email/website yang ASLI atau yang SCAM.

Advertisements

Mengenal “On-Device AI” di Smartphone: Apa Gunanya?

Belakangan ini tren AI (Artificial Intelegent) sudah menjamur di berbagai industri teknologi. Tak ketinggalan di industri smartphone, AI menjadi salah satu fitur yang bisa dibilang sudah menjadi “fitur wajib” terutama untuk smartphone kelas menengah ke-atas. Smartphone tanpa fitur AI akan terasa kurang dan mungkin akan dianggap ketinggalan jaman.

On-Device-AI

Lalu, apa yang sebenarnya dimaksud sebagai AI yang ada di smartphone-smartphone terkini itu. Apa yang membuatnya smartphone tersebut lebih unggul, jika dibandingkan dengan smartphone tanpa teknologi AI? Kami akan sedikit membahas tentang AI dan penggunaanya pada smartphone terkini.

Smartphone & “AI”: Kombinasi Kekinian

Penggunaan AI di smartphone menghadirkan beberapa fitur baru, contohnya adalah personal assistant. Beragam personal assistant, seperti Google Assistant, Siri, dan Cortana hadir dengan memanfaatkan teknologi AI ini. Dan saat ini, perkembangan teknologi AI telah mampu meningkatkan fitur-fitur pada smartphone itu sendiri, di luar personal assistant, mulai dari untuk performa, konsumsi daya, fitur kamera, serta fitur-fitur lain yang mendukung kenyamanan dan kemudahan penggunaan. Dengan kemampuan AI, optimasi fitur-fitur tersebut tidak hanya berfungsi sebagaimana yang ditetapkan produsen smartphone, tetapi bisa berkembang sesuai dengan kebiasaan pengguna.

AI-Smartphone

Sebagai contoh, kita akan coba membahas fitur penghematan daya baterai. Sebelum AI marak digunakan, pengguna harus mengatur secara manual fitur “Performance Mode”, di mana smartphone akan berjalan di kemampuan terbaiknya, yang akan dibutuhkan untuk beberapa aktivitas, seperti bermain game, browsing dengan banyak tab terbuka, ataupun editing konten. Namun, bila pengguna tidak menonaktifkan mode itu setelah selesai beraktivitas, konsumsi daya baterai smartphone tetap akan berada di tingkat yang terbilang tinggi, membuat baterai relatif lebih cepat habis. Kini, dengan AI, tingkat performa bisa ditentukan otomatis dengan memanfaatkan AI itu, sesuai kebutuhan dan kebiasaan pengguna.

Penggunaan AI lain yang cukup marak ada di kamera smartphone. Dengan AI, smartphone bisa menawarkan optimasi pengambilan gambar yang lebih baik. Kamera bisa secara otomatis menyesuaikan parameter pengambilan foto sesuai dengan kondisi lingkungan tempat pengambilan foto. Selain itu, AI juga memungkinkan kamera smartphone mengambil foto berdasarkan objek tertentu, dengan parameter dan efek foto diatur secara otomatis, sesuai dengan apa yang dianggap paling cocok untuk menonjolkan objek tersebut, misalnya untuk objek makanan, bunga, hewan, juga untuk “beautification“, dan lain sebagainya.

Bagaimana “AI” Bekerja?

Melihat fungsi dari AI di smartphone itu, hal yang mungkin membuat kita penasaran adalah bagaimana sebenarnya AI ini bisa membuat kemampuan yang ditawarkan smartphone berkembang sesuai dengan apa yang dibutuhkan penggunanya. Secara singkat, “AI” di sini berarti ada suatu sistem yang bertugas untuk melakukan analisa terhadap aktivitas pengguna, di mana data-data yang dibutuhkan untuk dianalisa itu dikirimkan oleh smartphone ke sistem tersebut. Sistem tersebut umumnya ditempatkan di cloud, yang dikelola oleh pengembang sistem, misalnya Google untuk Google Assistant. Nantinya, informasi hasil analisa data tersebut digunakan smartphone untuk meningkatkan kemampuan fitur yang ada di dalamnya.

Cloud-Based-AI

“Teknik” kerja AI ini sebenarnya sudah digunakan selama beberapa waktu, terutama sejak kemunculan personal assistant berbasis suara, seperti Google Assistant. Namun, seiring perkembangan kebutuhan akan AI ini, memanfaatkan cloud untuk AI sudah dipandang merupakan kendala tersendiri. Salah satu faktor utamanya adalah data yang harus dianalisa harus dikirim terlebih dahulu ke cloud, yang tentunya juga tergantung dengan koneksi Internet pada smartphone itu sendiri. Hal ini tentunya jadi tantangan tersendiri bagi pengembang AI untuk smartphone, di mana mereka harus bisa mengatasi “keterbatasan” itu agar adopsi AI menjadi lebih fleksibel dan lebih luas, sehingga AI bisa berjalan lebih optimal. Solusinya, AI pun kini “diproses” di dalam smartphone itu sendiri.

“AI” Bisa Diproses di Smartphone?

Ya, bisa! Analisis data untuk kebutuhan AI pun bisa dikerjakan di smartphone, dengan memanfaatkan komponen-komponen yang ada di smartphone. Memang, untuk saat ini, pengolahan AI di smartphone masih ada di tingkat yang jauh lebih sederhana dari yang bisa ditawarkan oleh AI dengan cloud, sehingga tetap saja cloud akan dibutuhkan untuk menawarkan semua kemampuan AI di smartphone. Namun, karena ada proses yang bisa dikerjakan di smartphone, AI pun bisa jadi lebih efisien.

Artificial Intelligence Electronic Circuit. Microchip With Glowi

Sebagai contoh, untuk AI di kamera, pengenalan objek-objek yang cukup umum untuk pemilihan “scene” foto, seperti makanan, bunga, dan beberapa jenis objek lain, sudah bisa dilakukan sepenuhnya di smartphone yang sudah dilengkapi dengan komponen-komponen yang mendukung AI. “On-Device AI” seperti ini memanfaatkan sejumlah prosesor di dalam SoC smartphone, seperti CPU, GPU, dan lain-lain untuk analisa data di dalam smartphone sendiri, sehingga hasilnya bisa didapatkan langsung, tidak perlu dilakukan oleh cloud, yang membuat smartphone yang tidak terhubung ke Internet pun bisa mendapatkan manfaat AI ini. Lalu, apa “On-Device AI” ini memiliki perbedaan dengan “AI” berbasis cloud?

Beda “On-Device AI” di Smartphone dan “AI” Biasa

On-Device AI tentunya memiliki perbedaan dengan AI berbasis cloud, terutama dalam skala kemampuan yang ditawarkan. Ya, apa yang bisa diproses di smartphone tentunya tidak seluas apa yang bisa diproses oleh cloud, karena cloud pastinya memiliki kemampuan proses jauh lebih tinggi dari sebuah smartphone. AI yang bisa diproses secara lokal di smartphone umumnya memiliki fungsi yang lebih terbatas, tetapi sudah bisa memenuhi sebagian kebutuhan AI di smartphone itu sendiri.

Walaupun begitu, on-device AI tentunya memiliki respon yang lebih cepat, karena proses dilakukan di dalam smartphone itu sendiri. On-device AI ini juga lebih efisien, karena smartphone tidak perlu terus-menerus terhubung ke cloud ketika ada proses AI berjalan, terlebih lagi ketika koneksi Internet tidak stabil, yang umumnya selain memakan paket data, akan menguras daya baterai. Selain itu, karena tidak ada transfer data ke cloud, AI “internal” smartphone ini juga relatif lebih aman.

Menariknya, on-device AI ini tetap bisa berkembang, menyesuaikan diri dengan kebutuhan yang ada. On-device AI pun tetap berkomunikasi dengan AI di cloud untuk “belajar”, meningkatkan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan yang lebih luas. Jadi, on-device AI ini bukan benar-benar menggantikan total fungsi AI berbasis cloud, tetapi akan menjadi pelengkap untuk menawarkan AI yang lebih fleksibel di smartphone.

AI Engine: Paket “On-Device AI” dari Qualcomm

Seperti yang sudah dibahas di atas, on-device AI membutuhkan prosesor-prosesor di dalam smartphone untuk bekerja, mengolah data menjadi informasi untuk kebutuhan AI. Mari kita ambil contoh dari paket dari Qualcomm untuk “on-device AI”, yang mereka sebut sebagai AI Engine, yang tersedia di beberapa SoC kelas menengah ke atas mereka. AI Engine ini sendiri tersedia di SoC kelas menengah, Snapdragon 660 & Snapdragon 670, serta SoC kelas atas, mulai dari Snapdragon 710, Snapdragon 820/821, Snapdragon 835, hingga Snapdragon 845/850.

Sebagai sebuah “paket”, AI Engine ini terdiri dari komponen hardware dan komponen software. Di sisi hardware, Qualcomm menyebutkan bahwa AI Engine ini dimungkinkan berkat kerja sama dari CPU Kryo, GPU Adreno, dan Hexagon Vector Processor, yang ada di DSP Hexagon di SoC Snapdragon. Komponen-komponen hardware itu bisa bekerja sama, di mana masing-masing komponen itu akan menangani pemrosesan komponen analisa data AI yang berbeda, saling mendukung satu-sama-lain, membuat proses AI menjadi efisien, sesuai dengan tuntutan on-device AI yang ada.

Komponen hardware dari AI Engine itu akan bekerja sama dengan beberapa komponen software, yang memungkinkan pengembang aplikasi bisa mendapatkan akses untuk memanfaatkan CPU, GPU, dan DSP di SoC Snapdragon yang siap untuk AI Engine, untuk melakukan proses AI. Selain itu, terdapat juga komponen software yang medukung pertukaran data antara smartphone dengan cloud, untuk mendukung AI dalam smartphone berkomunikasi dengan AI di cloud untuk belajar, atau menjalankan analisa yang tidak bisa dilakukan secara on-device. Qualcomm menyebutkan, kemampuan tinggi dari SoC yang telah dipersenjatai dengan AI Engine ini akan menawarkan pengalaman on-device AI yang bisa memuaskan kebutuhan penggunanya.

Ganti Lcd Ipad Pro 12.9 inch

Hari ini saya kedatangan user ipad pro 12.9 inch dengan kondisi touchscreen pecah dan display masih normal.

Kondisi retak hanya pada bagian bawah dan touchscreen masih berfungsi normal.

Langsung aja kita ke proses penggantiannya ya.

Proses awal seperti biasa dengan memanaskan keliling tepi kaca agar lemnya melunak dan gampang dia angkat lcdnya. Utk ipad pro lcd dan touchscreen sudah 1 set alias di lem ya, jadi tidak bisa di ganti terpisah.

Untuk posisi flexibel konektornya berada di bagian tengah dan usahakan jangan mengangkat lcd terlalu tinggi agar tidak merusak flexibelnya.

Posisi flexibel di tutup plat kaleng dengan tiga baut, buka baut untuk melepaskan flexibelnya.

Perlu di ketahui untuk lcd baru bawaanya tanpa kabel konektor lcdnya.

Jadi kita harus memindahkan kabel konektor dari lcd lama ke lcd barunya. Dan perlu diketahui prosesnya agak riskan dan harus hati-hati karena kabel flexibelnya 1 set sama board yang saya kurang tahu pasti fungsinya dan boardnya itu tidak di jual.

Kita lepas kabel konektornya perlahan dan hati-hati agar tidak sobek, di mulai dari kabel di kiri kanan lcd.

Terakhir lepaskan kabel fingerprint nya juga.

Pada foto terakhir bisa anda lihat board berbentuk kotak yang saya maksud, proses berikutnya adalah memisahkan kabel dan board dari lcd lama. Sambungannya tidak berbentuk konektor tetapi model solderan dengan jumlah lebih dari 50 titik.

Proses di awali dengan mencairkan timah di semua area titik kuningnya agar timah bawaannya bisa menyatu dengan timah baru dan lebih gampang lumer. Setelah itu gunakan pemanas dan di bantu dengan solder untuk melepas solderannya. Lakukan dengan perlahan dan jangan di paksa kalau masih menempel kuat karena akan berakibat titik solder di boardnya tercabut.

Hasilnya bisa anda lihat di foto atas, posisi flexibel telah berhasil di lepas dari boardnya.

Kita lanjutkan ke proses pemasangan board flexibelnya ke lcd baru melalui proses solder ulang.

Rapikan kembali flexibel seperti posisi awal di lcd barunya dan jangan lupa pasang kembali fingerprint nya.

Test terlebih dahulu fungsi-fungsi lcdnya sebelum di lem ulang, kalau sudah normal baru di lem ulang dengan lem double tip atau lem cair.

Dari proses diatas, ada beberapa point yang ingin saya sampaikan

  • Untuk lcd kualitas ori 100% alias ori produksi pabrik lain dan bukan dari apple nya langsung
  • Untuk kualitas lcd tidak jauh berbeda dengan aslinya.
  • Lcd ori pabrikan applenya langsung agak sulit di dapat dan harganya sangat tinggi, jadi lcd dengan kualitas ori 100% bisa menjadi solusi terbaik.

Untuk proses bongkar dan pasang memakan waktu 1 sampai 2 jam karena proses pemindahan board kabel lcdnya tidak bisa terburu-buru.

Jika anda punya ipad yang rusak dibagian touchscreen atau lcdnya, langsung mampir ke toko kami untuk diperbaiki. Proses cepat dan harga terbaik.

Untuk info dll, anda bisa menghubungi kami atau kunjungi langsung toko kami yg beralamat di

Ruko wtc matahari no.5807

(smpg Bank CIMB Niaga)

Jln. Raya serpong

Bsd

Tangerang

Telp/wa 08788 077 8833

WA 0877 88 2526 30

Fb dan IG @cocodilocell

Fitur-Fitur Terbaru Yang Ada di iPhone X , Android Sudah Duluan Punya

Apple kembali menghadirkan seri terbaru dari iPhone X, antara lain iPhone XS, XS Max dan XR. Namun ketiga line baru iPhone ini dianggap hanya sedikit membawa peningkatan fitur dari generasi sebelumnya. Seperti FaceID lebih cepat, speaker stereo, dan pilihan layar lebih besar. Bahkan beberapa fitur yang baru ada di line up iPhone X terbaru ini sudah lama ada di perangkat Android.

Berikut beberapa fitur baru yang ada pada tiga iPhone X terbaru, namun sudah lebih dulu ada di perangkat-perangkat Android:

Apple A12 Bionic Dengan Neural Engine

A12 Bionic juga dibekali dengan teknologi canggih Neural Engine. Neural Engine di A12 Bionic adalah sistem AI yang ditanamkan pada chipset, untuk kebutuhan mesin learning sehingga smartphone dapat berjalan lebih optimal sesuai kebutuhan pengguna. Seiring hadirnya beragam fitur AI terbaru pada smartphone mulai dari fotografi, AI performa hingga Augmented Reality, chipset/SoC terbaru memberikan ‘mesin’ khusus sehingga sistem bisa berjalan lebih kencang. Snapdragon dari Qualcomm dan Hi Silcon Kirin dari Huawei sudah lebih dahulu menghadirkan fitur tersebut.

Neural-Engine-291x500

Namun demikian, A12 memiliki peningkatan performa yang cukup signifikan. Dimana Apple A12 Bionic membawa enam inti prosesor dengan teknologi fabrikasi 7nm, yang diklaim memiliki peningkatan performa CPU sebesar 15%, efisiensi daya 50% dan 50% performa GPU

Retouch Aperture & Smart HDR

Apple membawa fitur terbaru yang digadang-gadang sebagai “Breakthrough” pada menu kamera dengan dual sensor mereka. Dimana pengguna bisa mengatur aperture pada kamera saat ingin mengambil foto, serta mengubah aperture setelah gambar diambil. Sayangnya fitur ini sudah lama ada pada perangkat Android bahkan sejak tahun 2015 silam. Perangkat seperti Huawei, Honor dan HTC paling dulu hadir dengan fitur tersebut. Selain itu Smart HDR pada kamera juga baru dihadrikan oleh Apple di line up iPhone X terbaru mereka (iPhone XS, iPhone XSMax dan iPhone XR), dimana fitur ini berkerja dengan AI untuk mengaktifkan HDR secara pintar saat mengambil foto.

dual-camera-retouch-aperture-417x500

 

Dual SIM

Dual-Sim-card-500x247

Smartphone dengan Dual SIM tentu bukanlah suatu hal yang bisa dibilang hebat. Bahkan untuk pengguna smartphone di tanah air rata-rata menggunakan smartphone dengan dual SIMCard dari harga paling terjangkau hingga paling tinggi. Smartphone tanpa fitur DualSIM bahkan bisa dikatakan sebagai suatu kekurangan.

Setelah bertahun-tahun hadir dengan single SIMCard, baru kali ini akhirnya iPhone hadir dengan fitur DualSIM. Bedanya, Apple menghadirkan dual SIM dengan satu slot SIM card, dan satu E-SIM. ESIM ternyata juga sudah ada didukung perangkat Google Pixel 2 meskipun baru tersedia di US. Tampaknya tren SIMcard juga akan berubah, dan brand besar seperti Google dan Apple sudah mulai mempersiapkan diri dengan teknologi tersebut

Apple Umumkan Seri iPhone X Terbaru, XS, XS Max dan XR

Apple kembali mengumumkan produk smartphone terbaru mereka yaitu iPhone, dimana kali ini Apple mengumumkan sekaligus tiga perangkat yaitu iPhone XS, iPhone XS Max dan iPhone XR. Ketiga produk terbaru mereka ini diumumkan tadi malam di Apple Special Event 2018.

iPhone XS hadir dengan layar SuperAMOLED 5,8 inci dan kini hadir dengan desain All Screen dengan rasio 19,5:9, dipacu dengan SoC Apple A12 Bionic, serta RAM 4GB. Adapun kamera utama dual sensor masing-masing 12 MP (f/1.8, 28mm, 1.4µm, OIS, PDAF) dan 12 MP (f/2.4, 52mm, 1.0µm, OIS, PDAF, 2x optical zoom), dan kamera depan dibekali dengan sensor 7 MP(f/2.2 ,32mm). Pilihan kapasitas storage yang tersedia yaitu 64, 256 dan 512 GB dengan varian warna Space Gray, Silver, dan Gold.

iPhone-XR-vs-iPhone-XS-vs-iPhone-XS-Max

Sedangkan iPhone XS Max hadir dengan layar yang lebih besar yaitu 6,5 inci. Ini menjadi iPhone yang memiliki layar paling besar, dan menyamai produk smartphone Android. Bisa dikatakan produk ini juga yang meruntuhkan prinsip Apple untuk menghadirkan layar smartphone “secukupnya.” Selebihnya, spesifikasi antara iPhone XS dan XS Max tidak memiliki perbedaan.

Adapun iPhone XR menjadi varian dengan spesifiksi paling rendah. Mungkin jika dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya, ini adalah varian iPhone “C”. Spesifikasi yang diusungnya yaitu layar 6,1 inci dengan resolusi HD+ (828 x 1792), juga menggunakan SoC Apple A12 Bionic Hexa-Core. Sementara untuk kapasitas RAMnya juga lebih kecil yakni 3GB.

iPhone XR juga hanya menggunakan single sensor pada kamera utama dengan resolusi 12 MP (f/1.8, 28mm, 1.4µm, OIS, PDAF). Sedangkan kamera depan sama seperti seri diatasnya yaitu dengan sensor 7MP. Varian warna iPhone XR tampak lebih colorful dengan pilihan Black, Red, Yellow, Blue, dan Coral.

iPhone-XR-500x313

 

Ketiga produk iPhone X terbaru ini kembali mengusung material kaca unibody, yang juga sudah menggunakan scratch resistant glass. Baik iPhone iPhone XR, XS dan XS Max juga sudah dibekali fitur water resistant IP68. iPhone XS dibanderol dengan harga mulai dari USD 999, iPhone XS Max dengan banderol mulai USD 1,099, dan iPhone XR dengan harga mulai dari 750USD. Apple akan mulai memasarkan produk terbarunya ini pekan depan, tepatnya 21 September 2018.

Kapasitas Baterai Smartphone Bukan Acuan Daya Tahannya

Banyak orang yang membandingkan smartphone hanya dari kapasitas baterainya saja. “Ah yang itu 4000 mAh, yang ini 3000 mAh. Jangan beli yang hanya 3000. Lebih cepat habis baterainya.” Masalahnya, kapasitas baterai saja, bukan acuan yang benar untuk mengetahui daya tahan baterai sebuah smartphone.

Tabel di bawah ini menggambarkan hasil pengujian baterai 4 smartphone Xiaomi. Pengujian yang dilakukan adalah memutar video beresolusi 720p secara nonstop hingga baterai habis. Kami urutkan data ini berdasarkan dari yang paling irit hingga yang paling boros:

Battery-Test-Video-Loop

  • Xiaomi Redmi Note 4: Snapdragon 625 (8-core), Litografi SoC 14nm, Baterai 4100 mAh.
  • Xiaomi Redmi 4X: Snapdragon 435 (8-core), Litografi SoC 28nm, Baterai 4100 mAh.
  • Xiaomi Redmi A1: Snapdragon 625 (8-core), Litografi SoC 14nm, Baterai 3080 mAh.
  • Xiaomi Redmi Note 4: Mediatek X20 (10-core), Litografi SoC 20nm, Baterai 4100 mAh.

Hm, ada yang salah dengan grafik di atas? Bagaimana caranya sebuah smartphone dengan baterai 3080 mAh bisa menyamai performa daya tahan baterai yang baterainya 4100 mAh? Bahkan, ada satu smartphone dengan baterai 4100 mAh yang sukses dikalahkannya.

Redmi Note 4 dengan Snapdragon unggul jauh di sini. Akan tetapi, Mi A1 memiliki beragam keungulan telak dibandingkan Redmi Note 4, seperti kamera lebih baik (tele, bokeh, Video 4K), WiFi AC/5ghz, dan OS ringan dengan update cepat. Sementara itu, Redmi 4X memiliki SoC yang jauh lebih lamban performanya. Oleh sebab itu, kami tertarik meninjau lebih lanjut Mi A1 dan redmi Note 4 Mediatek yang seharusnya menawarkan performa tertinggi.

Masih penasaran, kami menjalankan 2 smartphone Xiaomi dengan layar yang sama resolusi dan ukurannya, namun berbeda kapasitas baterainya: Xiaomi Mi A1 (3080 mAh) dan Redmi Note 4 yang berbasis Mediatek (4100 mAh). Grafik di bawah ini adalah hasilnya.

Battery-Test-Web-Browsing-500x338

Unik, bukan? Keduanya menyuguhkan hasil yang nyaris sama persis. Bagaimana caranya sebuah smartphone dengan baterai 3080 mAh bisa menyamai atau bahkan mengalahkan yang baterainya 4100 mAh?

Mungkin ada yang berpendapat: Ah, tentu saja Mi A1 bisa unggul. Performanya pasti berada jauh di bawah Redmi Note 4 dengan Mediatek X20. Pernyataan ini benar, jika kita hidup di negara beriklim dingin. Mari kita lihat 2 pengujian yang menampilkan performa keseharian, lengkap dengan efek suhu terhadap performa: Geekbench 3 Multicore dan PCMark.

Geekbench-3-Multi-Core-2-500x338

PCMark-Work-1.0-500x340

Ternyata, lagi-lagi kedua smartphone ini bisa menghadirkan performa yang mirip. Bahkan Xiaomi Mi A1 bisa unggul dalam pengujian PCMark. Berarti, kedua smartphone ini memiliki performa yang serupa, dengan ukuran baterai yang berbeda jauh (sekitar 25%), tapi daya tahan baterainya SAMA?

 

Jawaban: Jumlah Core dan Litografi Prosesor/SoC

Mediatek Helio X20 di dalam Redmi Note 4 yang kami uji memiliki 10 core di dalam SoC-nya. Ini bisa menghasilkan panas lebih tinggi dan pemborosan daya. Tapi, kenapa performanya bisa disamai oleh SoC yang hanya pakai 8 core? Mari kita bahas poin selanjutnya, yaitu litografi dalam proses produksi.

Snapdragon-625

Duh, apalagi ini litografi? Tidak perlu pusing. Litografi ini menggambarkan jarak rata-rata antara transistor di dalam sebuah prosesor. Secara umum, banyak yang mengunakan pula istilah proses produksi atau teknologi pabrikasi untuk menggambarkan jarak transistor. Saat ini kita akan melihat litografi dalam ukuran nm (nanometer). Berikut adalah contoh beberapa SoC modern-popular dan ukuran litografinya:

  • 28nm: Qualcomm Snapdragon 430, 435, 615, 617, 650, 652, Mediatek MT6750, MT6750T, MT6737, P10, P15, X10
  • 20nm: Qualcomm Snapdragon 808, 810, Mediatek X20
  • 14nm: Qualcomm Snapdragon 450, 625, 626, 630, 660, 820, 821, Exynos 7870, 7880, 8890
  • 10nm: Qualcomm Snapdragon 835, Exynos 8895

Lalu, apa sih keuntungannya kalau jarak di antara transistor dalam SoC itu menjadi makin pendek?

  • Lebih dingin dan irit daya
  • Lebih murah
  • Lebih kencang

Mari kita bahas lebih lanjut, apa maksud dari 3 keunggulan di atas ya.

Lebih Dingin dan Irit Daya

Karena jarak yang kian pendek, gesekan elektron pun akan berkurang, membuat suhu kerja jadi lebih dingin. Selain itu, otomatis aliran listrik akan menjadi lebih efisien. Efek sampingnya, jika ada dua arsitektur yang persis sama dan menggunakan litografi berbeda, maka yang lebih kecil akan lebih dingin dan lebih irit daya.

Battery-Life

Lebih Murah

Bagaimana caranya bisa lebih murah? Dengan ukuran SoC yang lebih kecil, Sebuah wafer silikon akan bisa menampung lebih banyak SoC dalam tiap “loyang”. Jadi, jumlah bahan dasar terbuang akan bisa ditekan dan waktu produksi akan lebih singkat. Akibatnya, biaya per SoC akan menjadi lebih rendah.

Silicon-Wafer

Lebih Kencang

Nah, ini yang sering dilakukan sekarang. Karena litografi kecil membuat desain lama menjadi jauh lebih irit, lebih dingin, dan lebih murah, produsen pun memanfaatkan kondisi ini. Dibuatlah desain yang lebih kencang dan lebih canggih. Pada akhirnya, bisa saja suhu kerja dan konsumsi daya dari sebuah SoC 28nm menjadi sama dengan dengan SoC 14nm. Akan tetapi, performanya bisa ditingkatkan secara drastis, clock bisa dinaikkan lebih tinggi, bahkan mungkin core bisa ditambah.

Catatan: Kenapa Sekarang Smartphone dengan SoC 10nm Mahal?
Ini banyak ditanyakan. Saat tulisan ini dibuat, semua SoC 10nm dibuat untuk performa tinggi. Litografi 10nm mengizinkan produsen untuk menjejalkan banyak komponen dan memanfaatkan jenis core dan GPU dengan performa tinggi. Ini tentunya membuat biaya pembuatan SoC menjadi lebih tinggi. Selain itu, untuk mengaktifkan segudang fitur yang ada di SoC 10nm kelas atas tersebut, dibutuhkan komponen pendukung yang tentunya ada harganya juga, bukan? Seperti: Layar dengan resolusi lebih tinggi, sensor-sensor yang lengkap, IC charging khusus, baterai khusus, dan sebagainya. Itu sebabnya, saat tulisan ini dibuat, Smartphone dengan SoC 10nm rata-rata harganya masih cukup tinggi.

Kapasitas Baterai Smartphone Bukan Acuan Daya Tahannya

Ya, jadi jawaban dari pertanyaan di awal terletak pada proses litografinya yang berbeda. Xiaomi Mi A1 menggunakan Qualcomm, Snapdragon 625 dengan litografi 14nm. Sementara itu Xiaomi Redmi Note 4 Mediatek (bukan produk resmi untuk pasar Indonesia) menggunakan Mediatek dengan litografi 20nm.

Efek samping dari litografi ini, performa Meditatek X20 yang menggunakan 10 core bahkan terkadang dapat disamai atau dikalahkan Snapdragon 625 (8 core). Hal ini terjadi, tak lain karena suhu kerja yang terlalu tinggi saat pengujian yang membuat Redmi Note 4 Mediatek menjadi kepanasan SoC-nya dan terpaksa menurunkan performanya.

Satu hal yang perlu diperhatikan. Beda litografi ini umumnya akan membawa perbedaan seperti yang dijelaskan dalam artikel ini bila arsitektur yang digunakan di kedua SoC yang dibandingkan sama, atau setidaknya mirip. Dalam hal ini, kedua SoC sama-sama menggunakan core Cortex dari ARM, sehingga perbedaan litografi benar-benar bisa terlihat.

Jadi, saat memilih smartphone, kita tidak bisa asal lihat jumlah core saja. Perhatikan pula litografinya, atau proses produksinya, atau mudahnya, “nanometernya”. Makin rendah, umumnya akan makin baik. Lebih irit, lebih kencang, dan lebih dingin, tentunya jika arsitekturnya mirip.
Catatan:
Sebenarnya ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi daya tahan baterai:
– Konsumsi daya SoC yang digunakan (Litografi sangat berpengaruh di sini)
– Konsumsi daya komponen lain yang digunakan
– Kualitas baterai yang digunakan
– Power management (ini bisa membuat 2 smartphone dengan spesifikasi sama memiliki ketahanan baterai berbeda).

BlackBerry Evolve & Evolve X Resmi Rilis di India

Optiemus Infracom sebagai pemegang lisensi resmi untuk produksi smartphone dengan brand BlackBerry di India, mengumumkan kehadiran BlackBerry Evolve & Evolve X terbaru. Kedua ponsel tersebut dilengkapi OS Android 8.1 Oreo dengan dibundling software keamanan DTEK dari BlackBerry.

BlackBerry Evolve dirilis dengan layar LTPS 5.99-inch resolusi FHD+ (2160×1080), aspect ratio 18:9 dan proteksi layar Gorilla Glass 5, serta menghadirkan dual kamera 13MP + 13MP dan kamera selfie 16MP (f/2.0).

BlackBerry Evolve ditenagai SoC Snapdragon 450 dengan 8 Core Cortex A53 @1.8 Ghz dan GPU Adreno 506, memiliki kapasitas RAM 4GB dan storage 64GB. serta telah menghadirkan batterai sebesar 4000 mAh

Optiemus juga menghadirkan BlackBerry Evolve X dengan ukuran dan resolusi layar serupa, namun dengan dapur pacu SoC Snapdragon 660 8 Core Kyro 260 dan Adreno 512, serta kapasitas RAM 6 GB dan storage 64GB, kapasitas batterai yang dihadirkan tetap sama yakni 4000 mAh.

BlackBerry Evolve X menghadirkan kamera lebih baik, dengan dual camera 12MP (f/1.8) + 13MP (f/2.6), kamera selfie 16MP (f/2.0) dan mendukung rekam video kualitas 4K.

Baik dari BlackBerry Evolve dan Evolve X telah hadir perdana, fungsi wireless charging untuk smartphone BlackBerry yang telah mendukung fitur pengisian daya cepat Qualcomm Quick Charge 3.0, serta mendukung fingerprint.

BlackBerry Evolve dibanderol dengan harga ₹24,990 ($365) dan ₹34,990 ($510) untuk BlackBerry Evolve X. Sayangnya belum ada konfirmasi kehadiran di Indonesia dari PT BB Merah Putih selaku pemegang lisensi BlackBerry di Indonesia.